Pages

Sabtu, 06 November 2010

Manfaat susu kambing





a.Mengandung Zincum (Zn) pembentuk system kekebalan tubuh.

b.Mineral alkaline baik untuk penderita maag kronis.

c.Zat flourin serta betakasein baik bagi penderita bronchitis,astma,TBC,pneumonia.

d.Kandungan A2 betakasein dan asam ainoessensial pembentuk insulin berguna bagi penderita diabetes

e.Cynokobalamin pembentuk zat Hb bagi penderita demam berdarah tinggi maupun darah rendah.

f.Enzim xanthine oxydase dan niasin (Vit.B3) berfungsi mengatasi sel kanker / tumor dan mengurangi efek toksis kemoterapi.kandungan kalsium membantu pertumbuhan tulang dn mencegah osteoporosis

g.Kandungan MCT nya (medium chain trygliseride)berguna untuk program diatery dan penyembuhan akibat stoke.

h. Mengandung mineral,belerang metionin,ribbofin(Vit.B3) dan B3 yang menumbuhkembangkan sel otak serta system saraf bagi kecerdasan anak


Lelaki jangkung dan kanker Testis





Peneliti asal America Serikat mengungkapkan lelaki yang bertubuh jangkung beresiko lebih tinggi terkena kangker testis jjika dibandingkan dengan mereka yang bertubuh pendek.
Timpenelity yang diketahui Dr MichaelBlaise Cook menemukan setiap 5 cm pertambahan tinggi badan seseorang,resiko kanker testis naik 13 %.Penelitian dilakukan terhadap 10.000 laki – laki yang memiliki tinggi badan diatas rata – rata.
Namun,sejumlah ahli dari inggris menekankan risiko kematian akibat kanker testis relative kecil.Hanya satu diantara 210 lelaki di inggris.faktor lain seperti keturunan dan riwayat kesehatan juga berperan dalam perkembangan penyakit itu.
Namun,kaum laki – laki tetap harus mewaspadai setiap perubahan ukuran dan bobot testis mereka,selain itu,peneliti menemukan tidak ada keterkaitan antara pertambahan berat badan dan resiko kanker testis.





Referensi : Koran media Indonesia,1 november 2010

Minggu, 17 Oktober 2010

Pengolahan Citra Pada Terumbu Karang





1)Pengolahan citra


Citra merupakan istilah lain untuk gambar– sebagai salah satu komponen multimedia memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual.Citra mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh data teks, yaitu citra kaya dengan informasi. Ada sebuah peribahasa yang berbunyi “sebuah gambarbermakna lebih dari seribu kata” (a picture is more than a thousand words).Maksudnya tentu sebuah gambar dapat memberikan informasi yang lebih banyakdaripada informasi tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata (tekstual).
Secara harafiah, citra (image) adalah gambar pada bidang dwimatra (dua dimensi). Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi menerus (continue) dari
intensitas cahaya pada bidang dwimatra. Sumber cahaya menerangi objek, objek memantulkan kembali sebagian dari berkas cahaya tersebut. Pantulan cahaya ini ditangkap oleh oleh alat-alat optik, misalnya mata pada manusia, kamera, pemindai (scanner), dan sebagainya, sehingga bayangan objek yang disebut citra tersebut terekam. Citra sebagai keluaran dari suatu sistem perekaman data dapat bersifat [MUR92]:
1. optik berupa foto
2. analog berupa sinyal video seperti gambar pada monitor televisi,
3. digital yang dapat langsung disimpan pada suatu pita magnetik.

Meskipun sebuah citra kaya informasi, namun seringkali citra yang kita miliki mengalami penurunan mutu (degradasi), misalnya mengandung cacat atau derau (noise), warnanya terlalu kontras, kurang tajam, kabur (blurring), dan sebagainya.Tentu saja citra semacam ini menjadi lebih sulit diinterpretasi karena informasi yang disampaikan oleh citra tersebut menjadi berkurang.Agar citra yang mengalami gangguan mudah diinterpretasi (baik oleh manusia maupun mesin), maka citra tersebut perlu dimanipulasi menjadi citra lain yang
kualitasnya lebih baik.Pengolahan citra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakankomputer, menjadi citra yang kualitasnya lebih baik.
Pengolahan Citra bertujuan memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau mesin (dalam hal ini komputer). Teknik-teknik pengolahan citra mentransformasikan citra menjadi citra lain. Jadi, masukannya adalah citra dan keluarannya juga citra, namun citra keluaran mempunyai kualitas lebih baik daripada citra masukan. Termasuk ke dalam bidang ini juga adalah pemampatan citra (image compression). Operasi-operasi yang dilakukan di dalam pengolahan citra banyak ragamnya. Namun, secara umum, operasi pengolahan citra dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis sebagai berikut:

1. Perbaikan kualitas citra (image enhancement).
Jenis operasi ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas citra dengan cara memanipulasi parameter-parameter citra. Dengan operasi ini, ciri-ciri khusus yang terdapat di dalam citra lebih ditonjolkan.
2. Pemugaran citra (image restoration).
Operasi ini bertujuan menghilangkan/meminimumkan cacat pada citra.Tujuan pemugaran citra hampir sama dengan operasi perbaikan citra.Bedanya, pada pemugaran citra penyebab degradasi gambar diketahui.
3. Pemampatan citra (image compression).
Jenis operasi ini dilakukan agar citra dapat direpresentasikan dalam bentuk yang lebih kompak sehingga memerlukan memori yang lebih sedikit. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemampatan adalah citra yang telah dimampatkan harus tetap mempunyai kualitas gambar yang bagus
4. Segmentasi citra (image segmentation).
Jenis operasi ini bertujuan untuk memecah suatu citra ke dalam beberapa segmen dengan suatu kriteria tertentu. Jenis operasi ini berkaitan erat dengan pengenalan pola.
5. Pengorakan citra (image analysis)
Jenis operasi ini bertujuan menghitung besaran kuantitif dari citra untuk menghasilkan deskripsinya. Teknik pengorakan citra mengekstraksi ciri-ciri tertentu yang membantu dalam identifikasi objek. Proses segmentasi kadangkala diperlukan untuk melokalisasi objek yang diinginkan dari sekelilingnya.
6. Rekonstruksi citra (image reconstruction)
Jenis operasi ini bertujuan untuk membentuk ulang objek dari beberapa citra hasil proyeksi. Operasi rekonstruksi citra banyak digunakan dalam bidang medis.

Berikut ini contoh gambar dari pengolahan citra,yaitu :




2)Terumbu karang di Indonesia

Potensi sumber daya terumbu karang di Indonesia sangat besar dan merupakan salah satu negara di kawasan Indomalaya yang meinpunyai wilayahteruinbu karang yang paling luas. Apabila sumber daya terumbu karang yang demikian besar tidak diberi perlindungan akan mengalami kehancuran.Inventarisasi teruinbu karang di Indonesia sudah banyak dilakukan.Yang dilakukan lebih banyak dengan pengukuran langsung sedangkan inetode yang memanfaatkan teknologi peginderaan jauh masih sedikit diterapkan. Pengunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk invetarisasi terumbu karang bagi negara yang meinpunyai wilayah yang sangat luas dan rnelnerlukan waktu yang relatif singkat. Tujuannya adalah untuk memetakan sebaran dan kondisi terumbu karang serta melihat dan inenghitung perubahan luasan teruinbu karang pada daerah tersebut. Pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit sumberdaya alam merupakan alternatif yang dapat dikedepankan dengan melihat kenyataan bahwa pengamatan obyek bawah air dapat dilakukan melalui citra pada kondisi air laut yang jernih dan mempunyai karakteristik yang homogen. Keunggulan dalam hal resolusi spasial, resolusi spektral, dan resolusi temporal juga menjadi alasan utama para ahli untuk menggunakannya. Penggunaan algoritma pemetaan material dasar di perairan laut dangkal dari Lyzenga dan proses contextual editing menghasilkan peta akhir yang akuratif.
Salah satu sumberdaya kelautan yang potensial untuk digarap adalah terumbu karang. Indonesia memiliki sekitar 50.000 km2 ekosistem terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah perairan Nusantara. Potensi lestari sumberdaya perikanan yang terkandung di dalamnya diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun (Dahuri dkk, 1996). Terumbu karang yang masih utuh juga menampilkan pemandangan yang sangat indah. Keindahan tersebut merupakan potensi wisata bahari yang belum dimanfaatkan secara optimal.Pemanfaatan dan pengembangan terumbu karang harus direncanakan melalui sistem manajemen terumbu karang yang terpadu. Pada tahap awal, sistem manajemen ini membutuhkan informasi sebaran, tipe, spesies, dan kondisi terumbu karang yang disajikan dalam bentuk peta.Pemetaan terumbu karang memerlukan data yang dapat menggambarkan distribusi spasial terumbu. Metode konvensional pengamatan bawah air dengan cara transek tidak mampu menyajikan informasi luas dan sebaran terumbu.

3)Metode Terumbu karang

Metode ini juga mengalami kendala sulitnya pengamatan medan akibat ketidakteraturan formasi terumbu. Pada interpretasi foto udara, pengaruh kedalaman perairan tidak dapat dibedakan dengan pengaruh karakteristik dasar perairan, sehingga penampakan terumbu menjadi kurang jelas. Selain itu juga kurang efektif untuk diterapkan pada daerah yang luas. Metode analisa peta navigasi tidak mampu menggambarkan pengamatan secara sinoptik, karena informasi yang dikandungnya hanya berupa simbol-simbol yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelayaran.
Untuk mengatasi pengrusakan ekosistem terumbu karang,diperlukan adanya pengendalian secara menyeluruh.Pengendalian menyeluruh tersebut merupakan strategi pengolahan ekosistem terumbu karang yang meliputi eksplorasi secara lestari,perlindungan dan pencegahan terhadap polusi dan degredasi yang disebabkan oleh aktifitas manusia.Oleh karena itu,diperlukan pemanfaatan teknologi pengindraan jauh di Indonesia yang semakin berkebangnya.Tetapi untuk bidang kelautan,pemanfaatan teknologi ini masih relative belum lama.Hal ini perlu karena bagaimanapun teknologi akan memudahkan bila sebelumnya telah dikuasai pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan teknologi tersebut. Pemetaan terumbu karang memerlukan data yang dapat menggambarkan distribusi spasial terumbu. Metode konvensional pengamatan bawah air dengan cara transek tidak mampu menyajikan informasi luas dan sebaran terumbu. Metode ini juga mengalami kendala sulitnya pengamatan medan akibat ketidakteraturan formasi terumbu. Pada interpretasi foto udara, pengaruh kedalaman perairan tidak dapat dibedakan dengan pengaruh karakteristik dasar
perairan, sehingga penampakan terumbu menjadi kurang jelas. Selain itu juga kurang efektif untuk diterapkan pada daerah yang luas. Metode analisa peta navigasi tidak mampu menggambarkan pengamatan secara sinoptik, karena
informasi yang dikandungnya hanya berupa simbol-simbol yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelayaran.Berpijak dari permasalahan tersebut, pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit merupakan alternatif yang dapat dikedepankan dengan melihat kenyataan bahwa pengamatan obyek bawah air dapat dilakukan melalui citra pada kondisi air laut yang jernih dan mempunyai karakteristik yang homogen. Apalagi sejak diluncurkannya Landsat-5 yang membawa sensor Thematic Mapper pada tahun 1984, banyak penelitian di bidang kelautan yang memanfaatkan citra ini.Keunggulan dalam hal resolusi spasial, resolusi spektral, dan resolusi temporal menjadi alasan utama para ahli untuk menggunakannya.

4)Aplikasi Satelit untuk Terumbu Karang

Salah satu aplikasi teknologi pengindraan jauh untuk bidang kelautan dalam pemetaan terumbu karang adalah pemanfaatan citra satelit. Terlepas dari keterbatasan yang ada, pemetaan terumbu karang dengan satelit sumberdaya alam merupakan cara yang paling efektif untuk diterapkan di Indonesia dengan pertimbangan luasan yang harus dipetakan, biaya dan waktu yang dibutuhkan, serta tingkat kedetilan informasi yang diharapkan. Berkaitan dengan akurasi hasil pemetaan, penggunaan algoritma Lyzenga dalam proses penajaman citra menjadikan peta akhir mempunyai akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses penajaman biasa hasil eksekusi perangkat lunak. Apalagi jika ditambah proses contextual editing yang dapat meningkatkan akurasi sampai 17 persen pada pemrosesan citra satelit. Pemanfaatan citra satelit sumberdaya alam dirasakan sangat menguntungkan untuk kegiatan pemetaan, pemantauan, dan manajemen lingkungan terumbu karang yang sangat luas. Maritorena (1996) telah membuktikan hal ini di Polynesia Prancis, dimana daerah penelitian terdiri dari sekitar 120 pulau yang tersebar merata di atas 2,5 juta km2 Samudera Pasifik bagian selatan. Citra Landsat TM yang mempunyai luas liputan 185 x 185 km2 dengan resolusi spasial 30 meter dan resolusi temporal 16 hari, sangat efektif untuk tujuan pemetaan yang tidak terlalu detil.



Pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit sumberdaya alam merupakan alternatif yang dapat dikedepankan dengan melihat kenyataan bahwa pengamatan obyek bawah air dapat dilakukan melalui citra pada kondisi air lautyang jernih dan mempunyai karakteristik yang homogen. Keunggulan dalam hal resolusi spasial, resolusi spektral, dan resolusi temporal juga menjadi alasan utama para ahli untuk menggunakannya. Penggunaan algoritma pemetaanmaterial dasar di perairan laut dangkal dari Lyzenga dan proses contextual editing menghasilkan peta akhir yang akuratif.Operasi-operasi pengolahan citra, biasanya literatur menggunakan beberapa contoh citra uji (test images) atau sampel.Terdapat sejumlah citra yang sering dipakai di dalam literatur pengolahan citra atau computer vision.
Referensi:

Jumat, 15 Oktober 2010

Ketahanan Penyakit Berasal Dari Domisili

Seseorang yang berasal dari daerah tradisional secara genetic lebih mampu melawan infeksi penyakit.Melalui analisis sejarah urbanisasi,tim ahli menemukan seseorang yang berasal dari suatu tempat yang telah dijangkiti wabah penyakit akan memilki ketahanan lebih kuat terhadap penyakit.
Para ilmuan dari University Collage London dan Royal Holloway,yang merupakan bagian dari university of London,menganalisis sampel DNA dari 17 manusia yang hidup di eropa,asia,dan afrika.Hasilnya diuji silang dengan data sejarah dan arkeologi di setiap daerah,tentang waktu berdirinya pemukiman perkotaan atau perdesaan pertama.Mereka kemudian meneliti varian gen yang spesifik dari sejumlah responden,yang memberikan mereka ketahanan terhadap penyakit tuberculosis (Tb).kusta,dan malaria.
Menurut Professor Brian Spratt,ahli mikrobiologi molekuler di imperial Collage London school of Public Health,mengatakan orang yang tahan terhadap suatu pathogen yeng menyebabkan penyakit mematikan,seperti malaria atau Tb,akan bertahan lebih baik dan akan menurunkan ketahanan lebih baik kepada generasi penduduknya.
Jadi,semakin panjang sejarah suatu daerah,semakin besar pula kemungkinan gen ketahanan terhadap penyakit itu akan menyebar luas di kalangan penduduknya.Ini merupakan contoh elegan dari aksi evolusi,yaitu penemuan aspek baru dari evolusi kita sebagai spesies,perkembangan kota - kota sebagai kekuatan selektif.Ini juga bisa membantu menjelaskan beberapa perbedaan tentang ketahanan terhadap penyakit di seluruh dunia.





Referensi : Koran media indonesia

Autisme Rentan Terserang Penyakit Kuning

Sebuah peneliti di denmarkmenemukan ada kemungkinan anak – anak yang secara genetic punya kecenderungan autism akan lebih rentan terserang penyakit kuning.Tetapi ,penelitian tersebut belum menjawab apakah salah satu penyakit itu menyebabkan yang lainnya menurut Rikke Damkjaer Mainbutg dari Aarhus University,denmark.
Mainburg dan rekannya menguji data medis dengan 733.826 anak yang lahir di Denmark pada tahun 1999 – 2004.Lebih dari 35 ribu bayi yang lahir mengalami sakit kuning dan 557 anak menderita autisme.Penelitian tersebut juga mengungkapkan penyakit yang disebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam tubuh.Bilirubin adalah suatu pigmen kekuningan yang diciptakan sebagai daur ulang sel darah merah tua.Hati bayi yang belum sepenuhnya matang diperkirakan menjadi penyebabnya.
Menurut hasil penelitian yang dirilisdi pediatrics edisi 11 oktober tersebut,perkembangan otak menjelang waktu lahir adalah yang paling rentan terhadap kadar bilirubin yang tinggi.namun,peneliti masih mencari bukti yang kuat atas spekulasi tersebut.Sakit kuning pada umunya tidak berbahaya.Namun,sakit kuning parah yang tidak dapat diobati akan meyebabkan kerusakan otak.





Referensi : Koran media Indonesia.

Penyuluh Bukan Profesi Biasa

Penyuluh masih saja dianggap saja dianggap bukan sebuah profesi.sepertinya siapa pun,berlatar apapn bisa – bisa saja jadi seorang penyuluh.Seperti yang dilakukan seorang penyuluhasal dari guru besar ilmu ekologi IPB yaitu Sumardjo menyatakan bahwa seorang penyuluh akan berdampak signifikan terhadap pengembangan cara berfikir masyarakat.Salah besar jika menanggap penyuluhan dapat dilakukan tanpa adanya sutu pembekalan ilmu.
Padahal Negara ini tidak akan berkembang dikarenakan adanya kesenjangan yang harus dicari titik temunya.Ini tidak akan mudah karena penyuluh harus memiliki beberapa skill yang harus andragogik,yakni keterampilan memberitahukan orang lain yang lebih dewasa tanpa adanya kesan mengajarinya.Secara psikologis seorang yang tua tak akan pernah sudi untuk digurui menrutnya.Selain tiu,seorang penyuluh haruslah membekali dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan budaya untuk mendukung fungsinya.Selain itu sebenarnya belum terlambat untuk membentuk seorang professional yang mampu mengembangkan potensi individu dan potensi social.Langkah awalnya dapat dimulai dengan dengan membekukan kompeensi seorang penyuluh.
Sampai saat ini saja belum ada kompetensi yang dibekukan.Kalau saja pemerintah punya kompetensi baku,tak sulit untuk melatih menjadi seorang penyuluh.Kalau sekarang standar saja tidak ada,kurikulum pendidikan dan pelatihannya yang terstandar,ujung – ujungnya pemerintah memberikan sertifikat kompetensi.Sertifikat tersebut,dapat digunakan sebagai semacam lisensi bagi penyuluhyang ingin menjalankan prakteknya.Lisensi itu bergunauntuk mencegah malapraktek penyuluh.Bukan hanya dokter saja yang bisa mal praktek .Jadi,tak bisa lagi ada orang yang asal main ajarkan pembasmian hama dengan semua obat yang belum jelas.Semua ada peraturannya selayaknya profesi yang profesionalitas.
Selain itu,suatu saat nanti penyuluh pun berharap dapat mempunyai semacam asosiasi profesi yang dapat mengotrol kualitas mereka dengan sebuah kode etik.Namun,untuk mewujudkannya ia mengakui tantangannya tantangan terbesar justru ada ditangan para pemimpin negri ini.keberpihakan mereka untuk membangun manusia,tak sekedar fisik dapat diterjemahkandengan keseriusan mengelola penyuluhan professional.


Referensi : Koran media Indonesia.

Kamis, 30 September 2010

Pengindraan jarak jauh dalam sistematis Geografi




I. Sistem Geografi
Sistem geografi merupakan langkah selanjutnya setelah proses pengindraan jauh dalam rangkaian pengolahan informasi geografi. Citra yang diperoleh melalui pengindraan jauh merupakan data dasar atau input yang selanjutnya diolah dan disajikan oleh sistem geografi. Posisi data dalam citra pengindraan jauh dapat dikoreksi kembali dalam sistem geografi. Dengan demikian, integrasi antara data pengindraan jauh dengan sistem geografi akan memperoleh informasi yang optimal sebagai data pemanfaatan wilayah.Pada awalnya, pengindraan jauh dan sistem geografi dikembangkan secara terpisah. Tenaga ahli di bidang pengindraan jauh mengembangkan sistem sensor dan metode pengolahan citra, sedangkan ahli sistem geografi akan lebih mengenal prinsip-prinsip proyeksi peta, analisis keruangan, dan rancang bangun data dasar keruangan. Walaupun keduanya berbeda dalam orientasi kerja, tetapi baik ahli pengindraan jauh maupun sistem geografi, sama-sama perlu mengerti kondisi dan informasi keruangan yang dikumpulkannya, seperti ikhwal hutan, geologi perencanaan jalan raya, dan sebagainya.
II. Hubungan pengindraan jauh dengan Sistem Geografi
Secara ringkas, hubungan antara pengindraan jauh dengan sistem geografi adalah sebagai berikut.
1. Pengindraan jauh dan sistem geografi keduanya digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan tentang sumber daya di bumi beserta infrastrukturnya yang akan digunakan manusia.
2. Pengindraan jauh dan sistem geografi mempunyai kemampuan yang saling melengkapi. Kemampuan analisis pengindraan jauh bertambah baik dengan pemeriksaan (verifikasi) data yang diperoleh sistem geografi. Demikian pula, penerapan sistem geografi akan memperoleh keuntungan dari informasi yang diberikan oleh pengindraan jauh.
3. Integrasi penggunaan pengindraan jauh dengan sistem geografi tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memungkinkan memperoleh data baru dan bagi daerah yang belum tersedia datanya.
III. pengolahan Sistem geografi informasi
Terdapat empat tahap pengolahan informasi geografi, yaitu sebagai berikut.

1. Data Masukan (Input Data)
Tahapan kerja SIG yang pertama adalah data masukan, yaitu suatu tahapan pada SIG yang dapat digunakan untuk memasukkan dan mengubah data asli ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh komputer. Data-data yang masuk tersebut membentuk database (data dasar) di dalam komputer yang dapat disimpan dan dipanggil kembali untuk dipergunakan atau untuk pengolahan selanjutnya. Tahapan kerja masukan data meliputi pengumpulan data dari berbagai sumber data dan proses pemasukan data.
A. Sumber Data
Data dasar yang dimasukkan dalam SIG diperoleh dari empat sumber, yaitu data lapangan (teristris), data peta, data pengindraan jauh, dan data statistik.
1) Data pengindraan jauh (remote sensing) adalah data dalam bentuk citra dan foto udara atau nonfoto.
Citra adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui satelit. Foto udara adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui pesawat udara. Informasi yang terekam pada citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau diinterpretasi (ditafsirkan) terlebihi dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk digital. Adapun citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya.
2) Data lapangan (teristris), yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui hasil pengamatan di lapangan karena data ini tidak terekam dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi, kepadatan penduduk, curah hujan, pH tanah, kemiringan lereng, suhu udara, kecepatan angin, dan gejala gunungapi.
3) Data peta (map), yaitu data yang telah terekam pada kertas atau film. Misalnya, peta geologi atau peta jenis tanah yang akan digunakan sebagai masukan dalam SIG, kemudian dikonversikan (diubah) ke dalam bentuk digital.
4) Data statistik (statistic), yaitu data hasil catatan statistik dalam bentuk tabel, laporan, survei lapangan, dan sensus penduduk. Data statistik diperoleh dari lembaga swasta atau instansi resmi peme rintah, seperti Biro Pusat Statistik (BPS). Data statistik merupakan data sekunder, yaitu data yang telah mengalami pengolahan lebih lanjut.
B. Proses Pemasukan Data
Proses pemasukan data ke dalam SIG diawali dengan mengumpulkan dan menyiapkan data spasial maupun data atribut dari berbagai sumber data, baik yang bersumber dari data lapangan, peta, penginderaan jauh, maupun data statistik.
Bentuk data yang akan dimasukkan dapat berupa tabel, peta, catatan statistik, laporan, citra satelit, foto udara, dan hasil survei atau pengukuran lapa ngan. Data tersebut diubah terlebih dahulu menjadi format data digital sehingga dapat diterima sebagai masukan data yang akan disimpan ke dalam SIG. Data yang masuk ke dalam SIG dinamakan database (data dasar atau basis data).


Teknik pemasukan data ke dalam SIG dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1) Digitasi data-data spasial, seperti peta dengan menggunakan digitizer.
2) Scaning data-data spasial dan atribut dengan menggunakan scanner.
3) Modifikasi data terutama data atribut.
4) Mentransfer data-data digital, seperti citra satelit secara langsung.
2. Manipulasi dan Analisis Data
Tahapan manipulasi dan analisis data adalah tahapan dalam SIG yang berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali, memanipulasi, dan menganalisis data yang telah tersimpan dalam komputer. Beberapa macam analisis data, antara lain sebagai berikut.
a) Analisis lebar, yaitu analisis yang dapat menghasilkan gambaran daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan pembangunan jembatan dan bendungan, seperti bendungan Jatiluhur, Saguling, dan Cirata yang mem bendung Citarum.
b) Analisis penjumlahan aritmatika, yaitu analisis yang dapat menghasilkan peta dengan klasifikasi baru. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan wilayah, seperti wilayah permukiman, industri, konservasi, dan pertanian.
c) Analisis garis dan bidang, yaitu analisis yang digunakan untuk menentukan wilayah dalam radius tertentu. Kegunaannya antara lain untuk menentukan daerah rawan bencana, seperti daerah rawan banjir, daerah rawan gempa, dan daerah rawan gunungapi.
3. Keluaran Data
Tahapan keluaran data, yaitu tahapan dalam SIG yang berfungsi menyajikan atau menampilkan hasil akhir dari proses SIG dalam bentuk peta, grafik, tabel, laporan, dan bentuk informasi digital lainnya yang diperlu kan untuk perencanaan, analisis, dan penentuan kebijakan terhadap suatu objek geografis. Misalnya, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan (land use), sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan dalam menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi



Referensi :

http://gurumuda.com/bse/hubungan-antara-teknologi-pengindraan-jauh-dengan-sig#more-15060

http://gurumuda.com/bse/pengolahan-informasi-geografi

www.google.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More